Itu
hanya satu dari antara berjuta kejadian yang selalu kualami hanya karena sebuah
kata ‘Memilih’. Dari dulu dan sampai
umurku 17 tahun sekarang ini aku masih membenci kata itu. Bukan cuma mama tapi
hampir semua orang yang ada disekelilingku selalu menggunakan kata-kata itu.
Bukan hanya buat pilih baju, perabot tapi bahkan buat nama saja juga harus
memilih, ngak masuk akal bangetkan. Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri,
kenapa sih orang-orang sangat bodoh, hanya gara-gara kata itu saja bisa membuat
suasana jadi ricuh, kan
nga masuk akal kan.
Dan
akhirnya saat aku pindah sekolah pun karena papa dipindah tugaskan, aku disuruh
buat memilih sekolah, dan anehnya saat aku sudah memilih malah mama dan papa
masih asik membuat aku bingung dengan menambah nama sekolah yang lain buat aku
pilih “wakh………..bingung tau nga sih mam,pap…,uda ahk, apa yang udah echa pilih
itu saja, kalau nga lebih baik echa nga usah sekolah” aku kesal sama sikap mama
dan papa, aku memelototkan mataku kearah mama dan papa tanda bahwa aku marah.
Disekolahku
yang baru, aku tampak asing, aku merasa orang-orang disini pada aneh semua dan
itu membuat aku parno.
“hai…nama
aku echa, lengkapnya echa prasasti atmaja, aku pindahan dari Jakarta dari sekolah SMA 34” uhf…aku menghela
lega setelah selesai memperkenalkan diri dan tampaknya teman-teman baruku
sekarang menerima aku dengan tangan terbuka. “baiklah echa kamu boleh memilih
mau duduk dimana” aku tiba-tiba tersentak saat guru baruku menyuruh aku buat
memilih dengan spontan wajahku langsung memasam tapi karena memang harus
memilih maka aku pun memilih tempat dudukku dibangku kedua. ”hai…namaku dina,
aku harus manggil kamu apa ya echa atau prasasti atau apa nama panggilanmu
biasanya, aku nga tau harus manggil apa, kamu sukanya dipanggil apa, nga tau nama
u cantik tapikan harus milih manggil apa” lagi-lagi aku harus memilih.
Sebenarnya aku cukup muak malah kalau bisa aku pingin muntah karena kebanyakan
mendengar kata-kata itu dan aku harus melakukannya “ya udah terserah kamu saja
mau manggil aku apa, tapi biasanya aku dipanggil echa” begitulah setiap saat
aku harus menjawab pilihan itu dengan menahan emosi dan mencoba buat tersenyum.
Tanpa aku sadari seseorang dari tadi memperhatikanku dan tanpa menunggu
ancang-ancang aku langsung melihat kearahnya dengan perasaan bingung. “itu sapa
ya din” tanyaku pada teman sebangkuku “oo..itu feri, ketua kelas disini” jelas
dina kepadaku. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Uhf….akhirnya
lonceng istirahat, desahku lega
“echa
mau netap disini atau ikut aku kekantin” Tanya dina kepadaku dan pertanyaannya
adalah pertanyaan buat aku pilih “nga akh…aku dsini aja…” aku tersenyum
kearahnya dengan senyum paksaanku, dan saat itu Hpku pun bordering tanda SMS
masuk keHpku. “hai echa sayang, gimana skul pertama kamu disekolah yang baru”
bunyi sms itu datangnya dari pacar aku namanya willy dan dengan cepat tanganku
membalas SMS darinya “aku…?ehmm..nga seru, kamu tau dong aku ngak suka dengan
kata Memilih atau sejenisnya, eh…disini malah pertama masuk aku harus
dihadapkan dengan kata itu” dengan sedikit jengkel aku menceritakan peristiwa
yang terjadi pada willy. Ohya, sebelum aku lupa aku udah pacaran sama willy 1
tahun 3 bulan, dia cowok yang paling baik yang mau mendengarkan selalu
curhatanku.
Saat
aku selesai mengirim SMS tiba-tiba dari belakang. “hai echa…kayaknya kamu lagi
seru banget mainin Hp kamu” ya ampun aku terkejut banget saat seseorang itu
berbicara. Aku hanya melompat kaget sekilas lalu hanya melihatinya “kenalin
namaku feri lengkapnya feri Jacob, aku ketua kelas dikelas ini aku juga ketua
osis, kamu boleh manggil aku feri, teman-teman biasa manggil aku begitu. Aku
hanya tersenyum, aku terus melihatinya dan dalam hatiku takjub karena dia ngak
nyuruh aku buat harus memilih nama panggilannya seperti yang dilakukan dina, dan
dia kelihatan keren sekilas saat itu pula aku melupakan willy. “hai..namaku…”
belum sempat aku menyebutkan namaku buat memperkenalkan diri dia langsung
memotong gitu aja bicaraku “iya aku tahu namamu echa prasasti atmajakan” aku
hanya mampu buat menganggukkan kepalaku membenarkan perkataannya ”aku boleh
manggil kamu echa aja ya, kayaknya lebih seru aja” lagi-lagi aku tersenyum
mendengar perkataannya, dia ngak ada menyuruh aku buat memiih. Sesaat itu pula
kami pun semakin dekat dan lagi pula dia ngak pernah mengeluarkan kata-kata
memilih. Tiba-tiba saja aku bisa seakan dekat dengannya dan melupakan willy dan
saat itu walaupun aku mengingat willy itu hanya untuk membuat perbandingan
antara willy dengan feri. Memang sih willy suka mendengarkan curhatanku tentang
kata yang ngak pernah aku sukai, tapi feri lebih baik dari willy, willy juga
terkadang mau mengeluarkan kata memilih didepanku walaupun dalam
ketidaksengajaan sedangkan feri, selama kami bercerita dia ngak pernah sama
sekali menyinggung apapun yang bersangkutan dengan memilih.
Ternyata
aku ngak pernah menyangka akhirnya aku dan feri dekat dan malah sangat dekat
padahal baru beberapa hari kami bercerita dan aku ngak pernah memikirkan willy
dan anehnya saat itu pula willy jarang malah ngak pernah lagi menghubungi aku,
aku berfikir ini bukanlah suatu kebetulan aku mengira feri memang dikenalkan
padaku oleh Tuhan buat menggantikan willy dan ini bisa dikatakan suatu berkat
aku ngak pernah berfikiran bahwa yang kulakukan adalah salah karena aku sudah
mencoba menduakan orang yang aku sayangi dengan kata lain aku Selingkuh.
Semakin aku dekat dengan feri semakin aku mampu untuk melupakan willy hingga
suatu kali feri hendak mencium keningku awalnya aku memang ingin dicium oleh
feri tapi tiba-tiba saja kepalaku terasa sakit dan saat itu hal yang aku ingin
lakukan adalah tertidur dan melupakan hal yang barusan hampir saja terjadi.
“kamu kenapa cha..?” feri
memperhatikanku dengan lekat dan dia mencoba memegang keningku memeriksa apakah
aku sakit saat tangan feri hampir menyentuh keningku aku dengan cepat
menjauhkan tangannya “aku ngak apa-apa kok” aku tersenyum “ya udah aku antar
kamu pulang ya buat istirahat” kami pun berjalan menuju kendaraan feri dan saat
kami berjalan feri memegang tanganku dan spontan aku melihat kearahnya dan
tersenyum, saat itu pula aku bertanya pada diriku sendiri apakah aku ini sudah
mempermainkan perasaan orang-orang yang sayang sama aku.
Satu
harian aku merasa pusing memikirkan kejadian yang sedang aku hadapi sekarang
ini, aku berfikir sepertinya sekarang aku dihadapkan pada suatu pilihan. Saat
aku memikirkan itu tiba-tiba orang yang hampir akan aku hilangkan dari hatiku
ternyata mengirim pesan padaku “malam sayang...kamu udah tidur belum” SMS dari
willy semakin membuat aku pusing dan bingung, cukup lama aku membalas SMS dari
willy dan aku masih terus menatapi Hpku yang disinggahi pesan oleh willy “kamu
sudah tidur ya echa sayang, aduh maafin willy ya udah mengganggu, mimpi yang
indah ya dan jangan lupa mimpiin willy aja ya” pesan dari willy mengingatkanku
pada feri yang tadi juga mengucapkan kata tersebut sebelum berpisah dan dia
pulang. Kali ini aku mencoba membalas SMS dari willy “iya wil..aku pasti akan
mimpiin kamu” aku nga berani menyelipkan kata sayang seperti kebiasaanku, aku
makin tampak bingung dan itu membuat aku tampak lemas dan hampir semua badanku
terasa nyeri karena aku juga mengatakan kata serupa pada feri. Hingga akhirnya
aku pun mencoba tertidur dengan perasaan bercampur-campur dan ini bisa
dikatakan perasaan aneh.
Ternyata
hari-hari yang aku hindari akhirnya datang juga. Aku ngak pernah menyangka saat feri mengantar aku pulang dan saat kami
tepat berada didepan pintu saat itu pula feri hendak mencium keningku, pintu tiba-tiba terbuka dan dari dalam
seseorang berteriak “surprise…aku dat…”belum sempat orang yang memberi surprise
itu melanjutkan kata-katanya kami berdua pun sama-sama terkejut “willy…” aku
memperhatikan willy, sejenak
feri yang melihat yang terjadi hanya mampu terdiam dan memegang tanganku
mencoba meminta penjelasan, saat feri memegang tanganku lagi-lagi willy
terkejut dan tersenyum kecut dan saat itu pula dia hendak meninggalkan kami
“wil…wil...willy…”kata-kataku terpata dan seakan tak sanggup aku meraih
tangannya, sepertinya willy kaget dan ngak mengira aku mampu melakukan semua
ini, melihat kejadian itu willy ngak mampu bertahan dia pun beranjak pergi
meninggalkan aku dan feri “wil...dengerin aku dulu…wil...”aku berteriak
memanggil namanya, aku tak lagi menghiraukan feri aku seakan menganggap bahwa
dikeadaan yang terjadi saat ini tanpa ada feri. Aku mencoba meraih tangan willy
“ ngak ada lagi yang mau dijelasin semuanya udah jelas cha.”
Masih
dengan kelembutannya willy menyingkirkan tanganku dari tangannya tanpa
menghempas tanganku dan dia masih mampu tersenyum “ngak…aku harus jelasin
semua” aku masih memegang tangan willy dan seakan ngak mau melepasnya “ngak
cha…kamu tenang aja aku ngak akan mempersulit kamu kok, aku ngak akan menyuruh
kamu buat memilih, ngak cha, mulai sekarang echa udah mutusi aku, maaf ya cha
kalau selama ini aku bukanlah pilihan hatimu” aku tersentak dan terkaget dan
aku hanya mampu menangis karena aku merasa sangat sedih saat mendengar perkataan willy apalagi saat
willy mengatakan bahwa akulah yang memutuskan hubungan ini karena dia berfikir
bahwa dengan berkata seperti itu aku bukanlah cwe yang diputuskan melainkan
yang memutuskan. “Echa ini kenapa ? Apa sih maksud semuanya, jelasin sama aku”
feri juga mengejar kami “wil...kamu harus dengerin penjelasanku” sekarang aku
tepat berada didepan willy dengan linangan air mataku tapi willy tetaplah tidak
memperdulikanku ditambah lagi feri meraih tanganku minta penjelasan “wil...kamu
salah sangka...wil…” karena willy ngak mendengarkan aku maka dengan spontan aku
menampar willy, feri yang melihat kejadian itu hanya terpaku “aku sayang sama
kamu” baik feri maupun willy hanya terdiam aku pun tak mampu untuk melihat
kearah willy terlebih feri “maksud kamu apa cha?” Tanya feri kepadaku sambil
mengarahkan pandanganku kearahnya “jelasin…cha…” feri hanya memegang pundakku
dan mengguncang-guncang badanku , willy yang melihat hal yang terjadi jadi
terdiam dan tak berbicara tapi dia masih menatap lekat mataku. “maaf fer… aku
minta maaf banget soalnya aku udah salah sama kamu” aku melepaskan tangan feri
dari pundakku “maksud kamu?” feri
meminta penjelasan padaku kali ini tanpa menyentuhku “ok aku akan menjelaskan
semuanya, fer…ini willy pacar aku yang sangat aku sayangi, memang selama ini
aku udah salah karena membuatmu berfikiran bahwa aku adalah pacarmu awalnya aku
membandingkan antara kamu dan willy dan aku tersadar saat semalam kita jalan
berdua, aku sadar kalau aku udah selingkuh dan bakal membuat willy sakit hati
dan kamu juga harus tahu bahwa aku sayang sama willy” tapi tampaknya baik feri
maupun willy masih bingung akan penjelasanku “aku ngak ngerti maksudmu” kali
ini tangisku makin keras dan masih dengan isakan “fer…willy pacarku dan aku
sangat..sangat sayang sama dia dan bagiku dia adalah pacar pertama dan
terakhirku, aku mintamaaf karena aku seakan udah memberimu kesempatan dan aku
tau pasti kamu mengira aku belum punya pacar dan aku juga tau kamu sayang sama
aku dan kamu berfikir kalau aku akan jadi pacarmu, itu semua salah fer, itu
ngak akan mungkin terjadi, aku hanya menganggapmu sebagai temanku makanya aku
mintamaaf” aku masih dengan isak tangisku “terus selama ini kenapa kamu memberi
aku kesempatan” sepertinya feri sangat marah akan perbuatanku.
Kayaknya
willy masih ingin mendengar penjelasanku “aku minta maaf fer, awalnya aku
mengira bahwa Tuhan memperkenalkanmu padaku bukanlah suatu kebetulan tapi Tuhan
menunjukkan feri buat echa buat menggantikan willy dihati echa, tapi echa salah
ternyata tetap saja willy ngak tergantikan fer? Sekali pun aku pernah
membanding-bandingkan antara feri dengan Willy dan sekalipun aku pernah
menyukai feri” kali ini tampaknya feri mulai mengerti walaupun… ”terus kenapa
echa berfikiran ingin menggantikan willy dari hati echa” willy melihat mataku
memberikan pertanyaan yang harus aku selesaikan saat itu pula dan tampaknya
feri pun ingin mengetahui jawabanku “begini...awalnya aku mengira feri adalah
seseorang yang sangat mengerti echa karena tanpa echa beritau feri tau kata
yang paling echa benci dan kenyataannya feri ngak pernah menyinggung kata-kata
itu” kali ini feri makin bingung “aku ngak ngerti, aku makin bingung echa, kata
apa yang kau maksud” perkataan feri balik membuat aku makin bingung akan feri “jadi
feri ngak tau sebenarnya kalau echa ngak suka sama kata memilih” aku menatap
feri yang hanya memberi jawaban dengan menggelengkan kepala “jadi selama ini
kenapa feri ngak pernah menempatkan echa pada kondisi memilih” aku meminta jawaban dari feri, willy yang ngak
tau apa-apa hanya bisa diam “echa…dalam hidup ini ngak ada kejadian tanpa kata
ataupun hal memilih” feri kali ini memegang pundakku dan kayaknya dia mulai
menyadari buat melupakan kejadian ini, aku hanya mampu menangis. “sekalipun
keadaan kita adalah suatu kesalah pahaman tapi bagiku echa adalah hal yang
terindah yang pernah feri kenal dan ketahui, makasih buat hari-hari kita berdua”
mendengar perkataan feri aku makin terisak dengan cepat aku memeluk feri “aku
mintamaaf ya fer” aku menatap feri yang tersenyum dan saat itu aku berfikir
kalau feri adalah sahabatku “ya udah aku harap kalian menjadi pasangan yang
abadi” feri melepaskan pelukan kami setelah melihat kearah willy “makasih ya
fer” saat itu pula feri beranjak pergi dan melambaikan tangannya kearah kami
“ok
Karena teman kamu udah pergi sekarang jelaskan padaku masalah ini soalnya aku
masih belum paham” willy melihat mataku dan saat itu aku tersenyum dan aku
mencium pipinya saat dia menunduk “ pelajaran yang aku dapat dari kejadian ini
adalah bahwa willy lah orang yang paling echa sayang dan itu ngak ada yang bisa
menggantikannya dan echa sadar bahwa echa ngak bisa serakah dalam segala
sesuatunya karena dalam kehidupan harus ada pilihan” aku menggandeng erat
tangan willy yang kayaknya masih sangat bingung “udah deh kejadian yang udah
lewat ngak usah dipusingkan kayak gitu lagi, ntar aku akan cerita deh ok sayang”
kali ini aku udah bisa mengucapkan kata sayang kembali pada willy dan itu
membuat willy tersenyum “ok tapi kamu harus janji bakal cerita ya sayang” kali ini
willy mencium pipi aku “sekarang aku tahu bahwa jika kita masih hidup didunia
ini maka kita akan selalu dihadapkan pada suatu pilihan dan apapun kejadian
ataupun hal itu bagiku willy lah pilihan untukku yang terbaik yang diberikan
Tuhan padaku untuk selamanya” dan saat itu kami sangat menikmati malam itu berdua
tetapi tetap ditemani dengan bulan yang berpasangan dengan bintang-bintang
kecil yang bersinar. Malam ini kami habiskan dengan lelucon , tawa dan senyum
kami. Hingga malam harus berakhir dengan senyum yang merekah dibibir kami,
sekali lagi willy mencium keningku dan mengatakan “aku sayang kamu”.
SPECIAL
THANX TO ALL MY FRIEND

Tidak ada komentar:
Posting Komentar