31 januari 2009

Ngak terasa banget ternyata udah mau masuk bulan februari, bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh banyak kaum adam dan hawa khususnya para remaja tapi itu tak terkecuali buat para orangtua. Aku menutup mataku mencoba mencari sesuatu yang sangat menarik dalam hidupku. Aku melihat kearah jendela kamarku yang terbuka lebar yang kian hari jendela itu kian memudar warnanya. Aku melihat langit yang gelap tapi cukup cerah karena diterangi oleh bulan dan bintang. Saat aku melihat keluar aku melihat sebuah tawa yang saat itu seakan mengarah padaku walaupun sebenarnya tidak. Aku terus menatap sebuah makhluk yang sangat indah bagiku sebagai ciptaan Tuhan.
Pagi ini aku sambut dengan tawa dan senyum sesaat aku dan keluargaku sudah berkumpul dimeja makan.
Dengan langkah yang cukup bahagia aku mengayunkan kakiku untuk mencari sesuatu yang berarti. Satu hal yang sangat aku takutkan dalam hidup adalah Kematian. Aku ngak pernah berharap aku mati dengan cepat tanpa melalui hidup yang begitu indahnya.
Sore yang kuhadapi dengan indahnya, aku masih asyik menghitung waktu karena aku juga salah satu manusia yang menanti hari valentine. Aku melingkari tanggal 14 februari itu dan aku memberikan senyum pada kalender. Aku melihat sekelilingku yang aku harap nantinya akan sangat berarti buatku. Aku pun bergegas mengangkat kakiku untuk berjalan menuju luar, aku berjalan-jalan sambil senyum yang akan tetap kutahan sebagai symbol bahwa hanya ini yang akan selalu kubawa sampai kapanpun.
01 februari 2009
Aku melihat kembali sesosok badan yang pernah aku perhatikan kemarin. Aku asyik melihatinya yang sedang bermain voly dengan teman-temannya. Aduh…kenapa lagi nih, aku mengerang kesakitan tepat berada diarah bagian dalam tubuhku yang disebut hati. Aku memegang dadaku yang kesakitan, aku juga ngak tau sejak kapan ini datang tapi yang jelas aku ingin tetap bertahan sampai aku menemukan sesuatu yang berarti buatku. Aku masih menahan sakitnya dadaku tapi masih asyik menatap dia karena aku ngak pernah ingin melepas pandanganku dari dia.
02 februari 2009
Sebenarnya aku mulai tanggal 01 februari sudah asyik mengisi diaryku dengan cerita-cerita seru yang akan kubagi dengan orang yang aku sayangi, aku ingin dia tau apa yang aku persiapkan menghadapi valentine ini.
02feb 2009 dear diary, mungkin ini hari pertama kita saling kenal yang awalnya kau bukanlah milikku. Aku mau mengenalkan diriku padamu namaku ohaura yesha, umurku sekarang 20 tahun, aku juga sedang kuliah tapi masih liburan nih, aku punya mama dan papa dan adik-adik yang baik semuanya padaku, punya teman-teman yang baik pula, mungkin kali ya…oya saat ini aku sangat antusias banget loh buat valentine entar dan kemarin aku jumpa sama cwok yang ganteng…banget…dia suka ngak ya sama aku ya..andai saja kali ya.oya udah ya aku mau melihat bintang dulu akh keluar.
Akhirnya aku selesai juga menulis diary pertamaku dan aku melihat kembali tulisan tanganku yang tampaknya aneh banget deh.
Aku menatap keluar jendela lagi dan melihat apakah aku akan melihat dia atau ngak dan ternyata ngak sama sekali. Aku mencoba keluar dan berharap dia ada diluar dan aku bisa berjumpa dengannya kembali, tapi tetap saja aku ngak melihat dia dan tiba-tiba dadaku terasa sakit banget. Sebenarnya sakitnya dadaku ngak ada yang pernah tau tak terkecuali mama. Biasanya setiap dadaku sakit aku hanya menahannya sebentar dan setelah itu pasti sembuh. Aku sendiri ngak pernah tau apa yang terjadi denganku.
03 februari 2009
Aku membuka jendela kamarku dan menghela nafasku panjang banget seakan-akan dadaku sesak. Aku tak menyangka ternyata sekarang didepan penglihatanku aku melihat dia yang asyik berjalan dengan teman-temannya. Aku ngak tau apa yang dia lakukan tapi aku sangat yakin ini masih pagi banget.
Hari ini aku berencana balik kekota tempat aku kuliah. Ntah apa yang aku pikirkan saat aku berada ditempat penungguan kendaraan, mataku tertuju pada sesosok pria yang tak lain adalah orang yang selalu aku perhatikan. Suatu kebetulan fikirku dan suatu kebetulan pula saat tiba-tiba saja mata kami saling beradu ntah kekuatan apa yang mendesakku, aku hanya mampu tersenyum dan anehnya dia membalas senyumanku.
Ngak terasa banget ternyata udah sampai dikota tujuan dan lagi-lagi aku melihat dia dan tanpa dia melihat kearahku. Aduh… desahku tiba-tiba dan kembali terasa amat sakit didadaku dan kali ini sakit banget tapi aku mencoba menahan.
Ngak terasa banget aku pun sampai dirumah kosanku dan dengan keadaan yang masih menahan sakit aku merebahkan badanku dikamar kos dan kulihat sekelilingku yang tampaknya sudah terlalu berdebu dan aku pun bergegas membersihkannya.
04 februari 2009
Dengan lelahnya aku naik kedalam angkot untuk menuju rumah saudaraku yang setelah aku selesai mempersiapkan segala sesuatu perlengkapan kuliahku. Saat aku menaiki angkot kerongkonganku terasa sakit dan membuat aku batuk yang tak tertahankan dan saat itu aku melihat darah yang seperti mengental keluar dari mulutku dan membasahi bibirku dan aku hanya berharap itu hanyalah sebuah kecerobohan semata karena ngak mampu menahan batuk saja.
Karena kejadian itu aku berpindah haluan menjadi menuju rumah sakit dan bukan kerumah saudaraku. Aku memeriksa keadaanku karena aku takut sesuatu yang mengkhawatirkan terjadi padaku. Dokter pun akhirnya menyarankan padaku untuk kembali besok untuk mengambil hasil yang akan menentukan sesuatu yang bakal terjadi padaku.
Malampun kembali terselimuti dengan kegelapan dan masih ditemani dengan beberapa bintang tapi kali ini tanpa bulan.
04feb2009 dear diary, hari ini sebenarnnya aku pengen kerumah saudaraku tapi karena keadaan mendesak terpaksa aku harus kerumah sakit terlebih dahulu dan saat ini perasaanku ngak enak banget menanti apa yang akan dikatakan oleh dokter. Tapi sebelumnya aku ingin mengatakan bahwa aku udah siap banget dengan beberapa coklat nantinya dihari valentine. Sekalipun aku ngak tau aku bakal memberikannya pada siapa. Tapi diary bantu aku ya supaya mendapat orang yang tepat untuk ucapan valentineku nantinya. Buat sekarang aku lagi deg-degan menunggu coklat cinta dari seseorang entah siapapun dia.
Aku mentup malam ini dengan senyumanku dan masih dengan harapan yang sama aku masih menantikan aku bisa mendapatkan coklat pada hari valentine nanti. Aku pun ingin menutup mataku tapi entah apa yang aku fikirkan aku sangat takut untuk menutup mataku karena aku takut nantinya aku tak mampu melihat dunia ini kembali.
05 februari 2009
Aku mencoba kembali membuka mataku tapi kali ini sangat berat banget, tapi aku teringat pada janjiku dengan seorang dokter untuk melihat hasil dari pemeriksaanku semalam. Aku menguatkan diriku untuk mendengar ataupun melihat hasil laboratorium yang akan diceritakan padaku. Saat dokter melihat mataku, aku seakan udah tau apa isi amplop kesehatan itu tanpa berkata apa-apa dokter hanya menganggukkan kepalanya dan mengatakan padaku untuk melihatnya secara langsung. Setelah dokter menyuruh aku membuka amplop itu mataku terbelalak melihat isi dari hasil tes itu “dokter, maksudnya ini apa dan kenapa ditulis positif” aku menatap dokter itu dengan penuh ketakutan, aku sangat takut mendengar penjelasan dokter itu “kamu positif mengidap penyakit kanker hati” dokter hanya mampu melihat aku dengan kesedihan “iya dokter makasih atas penjelasannya, aku akan terima semua ini dengan ikhlas” aku mencoba memperbaiki posisi dudukku dari bangku yang kutempati “kami hanya butuh rasa semangat anda dan persetujuan anda untuk dioperasi” dokter mencoba menyemangatiku lalu aku berfikir
Aku ngak tau apakah aku harus memberitau mama dan papa serta adik-adikku tentang penyakit yang tak pernah kuduga ini memasuki tubuhku.
Malam ini dikamar kos aku masih menahan tangisku dan mencoba bertahan serta aku tetap bersabar buat menerima semua ini.
05feb2009 dear diaryku yang sangat aku sayangi, sekalipun nantinya kita akan berpisah aku harap kau menyayangiku dan ngak akan melupakan aku. Tapi bagaimanapun aku masih ingin tetap hidup sekalipun ngak lama lagi seperti yang dikatakan dokter tadi, sekalipun buat valentineku yang terakhir ini. Aku hanya berharap aku mampu untuk menikmati valentine pertama yang baru kali ini aku sangat inginkan dimasa mudaku ini.
Air mataku terus menerus keluar secara serentak dari mataku membasahi tiap halaman diaryku, aku ngak mampu buat melanjuti tulisanku, aku hanya menutup diaryku dengan perasaan yang ngak jelas. Saat ini aku sangat ngak ingin untuk menutup mataku, karena aku sangat takut akan terjadi sesuatu padaku.
06 februari 2009
Aku menjalani hari-hariku dengan kehampaanku, aku pun akhirnya kembali kekotaku dan mencoba untuk membuat suasana seperti biasanya, aku sengaja ngak membawa kertas pemeriksaan dari dokter. Saat aku hendak membeli karcis, aku tersadar seseorang melihat aku seakan sangat dekat dan aku sungguh terkejut ternyata dia adalah cwo yang sering aku perhatiin itu. Aku hanya mampu mengalihkan pandanganku dari dia. Dan aku bersikap seperti biasa saat aku tau dia berada tepat dibelakangku saat hendak menyerahkan karcis. Ntah apa yang terjadi padaku tiba-tiba aja kertasku terjatuh dan untungnya dia sangat baik, dia mengambilkan karcis dan memberikan karcis itu kembali padaku sambil tersenyum dan jujur banget senyumannya itu manis banget.
Sangat diherankan tempat duduk kami berdepanan dan itu membuat aku jadi salah tingkah dan ngak mampu berbuat apapun, ntah apa yang terjadi tiba-tiba batukku pun kambuh dan aku lupa membawa tissue dan untungnya cwo didepanku sedang memegang sapu tangan dengan cepat aku mengambil sapu tangannya tanpa permisi, aku bangkit berdiri sambil memegang saputangan itu dan setelah aku selesai batuk sapu tangan itu aku kantungi “lain kali aku akan ganti, maaf ya aku tadi ngak permisi” saat aku mengatakan itu dia hanya melihat aku dan tersenyum.
Aku merasa hari ini adalah hari terindahku, hari yang aku harap-harapkan dan aku bisa berjumpa dengan dia.
Selama perjalanan, kami hanya membisu dan aku sendiri ngak berani buat melelapkan mataku, aku takut nanti aku akan kehilangan senyumnya. Rasa lelahku, kucoba tahan dan itu membuat aku merasa…sakit. Penyakit itu kambuh lagi, aku mencoba menahan sambil memegang dadaku, ternyata saat aku memegang dadaku dia melihat aku, aku langsung mencoba menahan sakit tanpa memegang dadaku yang sakit sambil tersenyum kearahnya.
Ngak terasa akhirnya kami sampai jumpa, ternyata kami harus berpisah. Ini hal teraneh tiba-tiba aja dia menyapa aku dan menyodorkan tangannya “ryan timoty” dia melihat kearahku dengan senyum yang sangat aku kagumi “ohaura yesha, panggil yesha aja” aku menjabat uluran tangannya sambil tersenyum “kamu sering aku lihat deh, tapi dimana ya” dia mencoba mengingat-ingat kapan dia pernah jumpa denganku, aku hanya menaikkan pundakku menandakan aku ngak tau, dia hanya tersenyum. Hingga kami pun berpisah.
Malam kembali menyapaku dan dengan cepat aku mengambil diaryku dan sebuah pena dari tasku, sebelumnya aku menatapi diaryku dengan senyum yang sangat indah karena hari ini aku senang banget.
06feb2009, dear diaryku tercinta, hari ini aku senang banget karena ini kali pertama aku berkenalan dengan cwok yang aku sangat ingin kenal dan ternyata aku ngak perlu susah karena dia yang mengajak aku kenalan duluan. Diary….aku ngak tau apakah dia yang akan jadi chocolateku tapi aku harap mudah-mudahan dia dan aku bakal sangat……senang banget.
Aku menulis isi diaryku dengan senyum yang merekah dan aku sangat senang, aku mencoba mengingat kembali kejadian tadi saat aku berkenalan dengannya. Sekarang aku mulai berani buat menutup mataku dan aku mencoba untuk tidak takut karena aku sangat ingin membawa dia kedalam mimpiku. Dan malam ini aku tutup dengan senyumku sambil mengucapkan “hari yang indah”.
07 februari 2009
Hari ini aku jalani dengan kegembiraan buat menyambut pagi, aku dan keluargaku tampaknya sangat menikmati sabtu yang cerah ini dan sangat diketahui hari ini juga hari buat kencan bagi para insan yang punya pasangan karena ini malam minggu.
Aku mencoba untuk tidak memikirkan tentang penyakit yang sekarang ada didalam tubuhku dan aku hanya ingin menikmati hari-hari ini.
08 februari 2009
Malam minggu semalan sama seperti biasanya dan mungkin tidak ada yang berbeda. Hari ini kami sekeluarga hendak pergi bersama kegereja, aku ngak pernah ingin menyia-nyiakan hidupku tanpa dekat dengan Tuhan dan itu tidak pernah aku inginkan.
Malam pun menghampiri hingga sesuatu yang tak pernah aku fikirkan terjadi. Seseorang yang aku kenal dengan nama ryan timoty aku lihat dengan beberapaa temannya sambil menikmati makanan kecil yang berada didepan dia dan tiba-tiba dia melihatku dan tanpa kuduga dia melambaikan tangannya kearahku dan aku pikir itu menandakan dia ingin aku mendekatinya, tapi niat buat menemuinya aku urungkan, aku bergegas masuk kedalam rumah.
09 februari 2009
Rasanya aku tak ingin melewati malam itu andai saja saat itu dia sebenarnya ingin aku didekatnya tapi hanya berdua maka hal yang akan aku lakukan adalah tidak akan melepaskannya jauh.
Hari-hari ini terasa sangat berarti buat aku dan itu mungkin karena penyakit yang sedang hinggap didalam tubuhku seringkali menghampiriku. Saat ini sebenarnya aku tak pernah ingin memikirkan itu karena aku merasa aku masih sangat membutuhkan indahnya hari-hariku bersama keluarga, teman dan dia yang sangat kunantikan.
Aku dan adikku pergi jalan-jalan dengan motor, dan aku sangat menikmati itu. Aku mencoba merasakan udara kotaku tanpa membuka mataku, aku takut suatu waktu udara ini tak lagi ada untukku. Saat aku menghela segarnya udara, aku mencoba membuka mataku walau sebenarnya sangat berat dan tiba-tiba disebelah kami sudah ada sebuah kereta yang dikendarai oleh seseorang yang sangat aku kenal dan dia mengendarainya dengan sangat keren. “hai yesha” dia menyapa aku sambil melambaikan tangannya dan aku membalas dengan merekahkan senyumku padanya. Lalu dia menyuruh adikku untuk memelankan jalan kereta kami “nih HPku tulis nomor mu ya biar aku telfon nanti” dia menyodorkan HPnya kepadaku, takut dia akna terjatuh dengan cepat aku mengambil HPnya dan menyimpan nomorku keHPnya dan dengan cepat aku menyerahkannya. Dan setelah itu dia melaju dengan cepatnya.
09feb2009, dear diary… senang banget tau hari ini aku berjumpa dengan dia dan beruntungnya aku, dia meminta nomor aku, ngak tau deh apakah dia akan menelfon aku malam ini, wow…senangnya kalau aja dia menelfon aku atau…ngesms aku kali ya. Akh aku banyak banget ngarep, he..e…
Sesaat setelah aku menulis isi diaryku, sebuah pesan masuk keHPku (hai, q ryan, q blh nlfn qm g?). Aku membelalakkan mataku setelah membaca pesan dari ryan, aku emncoba mengulangi isi pesan itu karena aku seakan ngak percaya akan yang aku lihat. Aku lama buat memikirkan balasan atas pesan itu. (hei…q ganggu qm y, udah tdr y, klu gt q mntmaaf y) seebuah pesan masuk kembali keHPku, aku fikir dia hanya mencoba buat mastiin atas balasanku. (maaf, q lm mbls alna q bngung ja td kok u cpt bngt smsq), ternyata aku ngak perlu menunggu lama atas balasan pesan yang aku kirim dan ternyata dia langsung menelfon aku.
Singkatnya…dia mengajak aku jalan besok dan itu bisa dikatakan ajakan ngedate ngak ya?. Aku hanya senyum-senyum setelah kami menyudahi pembicaraan kami.
09feb2009, maaf ya diaryku, aku mengganggumu, tau ngak sih aku punya berita yang bakal ngagetkan buat u, ryan timoty nelfon aku, dan senangnya aku, dia ngajak aku jalan besok dan mungkin itu bisa dikatakan ngedate kali ya. He…e, udah dulu deh soalnya aku mau tidur, aku ngantuk dan aku Cuma berharap jikalau dia jadi besok menjemput aku maka aku hanya bermohon pada Tuhan agar ajakan dia tidak kubuat berantakan.
Aku menutup diaryku dengan senyuman dan aku mencium diaryku pertanda bahwa hari ini aku senanng banget.
10 februari 2009
Aku udah ngak bisa ngebayangi apa yang bakal terjadi hari ini, tapi aku hanya mampu bermohon pada Tuhan agar hari ini berjalan dengan lancar. Aku melihat jam didinding, berharap agar waktu kali ini memihak padaku.
Permohonanku ternyata tidak sia-sia, sesaat setelah aku selesai berbenah sebuah suara motor menghampiri rumahku dan aku sangat tau bahwa itu adalah dia. Dengan cepat aku melangkah keluar, aku sudah melihat mama dan papa berada didepan dan setelah itu aku pamitan dari mama dan papa buat jalan dengan ryan setelah aku mengenalkan ryan ke mama dan papa.
Aku senang banget karena aku pun akhirnya dikasih kesempatan oleh Tuhan buat jalan dengannya. Tapi…sesuatu yang tak kuharapkan menghampiriku penyakit yang masuk ketubuhku tiba-tiba saja menyerangku dan anehnya kali ini sangat sakit… aku memegang dadaku dan awalnya aku mencoba tenang, tapi semakin aku menahan semakin penyakit itu sangat senang membuat aku menderita, lalu…”yesha, kamu kenapa?” Tanya ryan tanpa melihat aku kebelakang “aku ngak apa-apa kok” suaraku yang parau sepertinya membuat ryan khawatir lalu dia memberhentikan motornya dan melihat aku yang mencoba menahan sakitnya dadaku sambil tersenyum “aku ngak apa-apa kok ryan, udah terus aja jalan-jalannya” aku melihat dia dengan mimic wajah yang mencoba buat tersenyum walau hanya sekedar paksaan.
Lagi indahnya aku menikmati malam ini, ternyata penyakitku ngak bisa diajak berteman, dia malah menyerang aku dengan hebatnya hingga membuat aku menutup mataku dipundak ryan saat dia mengendarai motornya dan aku tak mendengar apapun yang dia ceritakan. Hingga aku dikagetkan dengan sesaknya dadaku yang tak tertahankan dan itu membuat aku terbatuk dan mengeluarkan segumpalan darah dan darah itu tersembur kebaju ryan dan itu membuat aku berusaha membersihkannya “udah ngak apa-apa” aku melihat senyum dibibirnya. Setelah itu kami berhenti disebuah rumah makan. Dan kami duduk disebuah meja yang aku anggap sangat nyaman karena dia yang memilihkan. Aku dan ryan sangat kaget karena banyak orang yang melihat kearah kami sebelum kami memesan makanan seorang waiters memberitau kepada ryan bahwa dibajunya ada noda yang sangat banyak berwarna merah dan dengan cepat ryan melihat kearah bajunya dan aku pun saat itu sangat kaget. Kejadian itu membuat ryan menarik tanganku dan mengajakku untuk pergi dari situ.
Ryan membawaku kesebuah tempat yang sangat indah tetapi cukup sunyi dan aku sangat yakin jauh dari banyak orang karena aku melihat keadaannya saat itu “aku boleh minta penjelasanmu akan hal ini” Tanya ryan tanpa menunjukkan rasa marahnya padaku “hg..itu..hm..” aku sangat ketakutan saat itu dan lagi-lagi penyakitku sangat tak bersahabat dia datang dan membuat aku menderita. Aku hanya mengerang kesakitan sambil menahan sakitnya dadaku tapi aku masih menutup mulutku dengan saputangan ryan yang kemarin diberikannya padaku kali ini ryan melihat dibibirku darah segar yang sangat dia tau bahwa darah itu keluar dari mulutku “kamu kenapa?” Tanya ryan sambil memegang keningku “aku ngak apa-apa kok, jangan kasihtau siapa-siapa ya, plis” aku merapatkan kedua tanganku menandakan aku sangat bermohon padanya “aku ngak akan cerita sama orang lain kalau kamu mau menceritakan apa sebenarnya yang terjadi padamu” dia memegang pundakku. Kami pun mengambil tempat untuk duduk dan kami mengambil tempat duduk dipasir pantai sambil menikmati deburan ombak “aku mengidap penyakit kanker hati, kata dokter bisa disembuhkan kalau aku berobat secara rutin dan mau dioperasi” aku menatap ryan sambil tersenyum “trus, kamu maukan” dia menatap aku “aku ngak mau dioperasi, aku ngak mau membuat mama dan papa merasa terbeban, buat aku hidup cuma sebentar tapi bisa merasakan kasih dan sayang dari keluarga dan teman-temanku itu sudah akan membuat aku hidup selamanya” aku tersenyum kearah dia sambil menahan sakitku sesekali aku menggenggam tangannya dan itu membuat dia mengerang kesakitan “maaf” sesekali aku memintamaaf padanya karena sudah membuat dia kesakitan dan dia hanya tersenyum “trus kamu ngak mau membuat semua yang sayang sama kamu itu bisa terus merasakan hari-hari yang indah denganmu” dia membelai rambutku dan itu membuat aku jadi semakin yakin pada diriku sekalipun nantinya aku udah ngak didunia lagi tapi aku masih bisa merasakan dekat dengannya, dan saat ini aku berharap kami bisa menghabiskan waktu malam ini dengan senyuman bukan kekhawatiran memikirkan yang terjadi “aku ngak peduli apakah saat ini aku akan berpisah dengan mereka tapi aku hanya meminta pada Tuhan tiga permintaan” aku menghela nafasku dengan panjang seakan aku takkan mungkin nantinya mampu merasakan semua ini. “kalau aku boleh tau apa permintaanmu?” tanyanya padaku “ada deh” aku hanya tersenyum kearah dia dan bercanda dan aku menghindari dia dan berlari kepantai dan setelah itu dia mengejar aku.
Aku sangat senang menghabiskan malam ini dengannya.
10feb2009, dear diaryku tercinta, hari ini jalan-jalanku dengannya berjalan dengan lancar, tau ngak sih ternyata dia baik banget sama aku, aku sendiri aja kagum banget lihat dia yang begitu peduli keaku ya sekalipun dia hanya sekedar merasa kasihan padaku. Malam ini pokoknya aku habiskan dengan kegembiraanku. Love u……
Aku berdoa pada Tuhan agar aku bisa terus merasakan kebersamaan dengannya. Aku melihat HPku yang mana sebuah pesan mampu membuat aku mengalahkan rasa takutku akan kematian.
11 februari 2009
Pagi yang cukup indah yang kurasakan, mama dan papa sudah ada dimeja makan menunggu aku turun “kak kok lama banget sih kalian masuk” Tanya adikku padaku dan aku hanya mampu tersenyum padanya “mungkin aku ngak masuk lagi kali” kata-kataku membuat papa dan mama marah “apa yang kamu bilang, ngak boleh begitu” papa memelototkan mata papa padaku dan dengan cepat aku meminta maaf dan setelah itu semua pada melakukan kegiatan rutin mereka, adikku yang pada sekolah, papa dan mama yang kekantor.
Lalu…sebuah pesan masuk keHPku “hai yesha, aku jemput kamu ya, kita jalan-jalan” pesan itu membuat aku senang bukan main, sebuah pesan dari ryan dan itu membuat aku sangat senang. Selang beberapa saat dia sudah berada didepan rumahku. “ok bagaimana putri yesha apakah putri sudah siap” dia menatap aku dengan serius seperti seorang pangeran yang hendak menjemput seorang putri “aku minta maaf ya, aku belum bisa, aku harus jaga rumah dulu sampai salah satu anggota keluargaku pulang” Dia hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia mengerti. Kami pun hanya cerita-cerita diteras rumah “hmm, tapi ingat-ingat ni ya, gimana persiapan valentine kamu, tapi sebelum kamu jawab aku mau nanya satu hal yang sangat penting harus kamu jawab” dia menatap aku dengan tatapan yang sangat tajam “apa? Tanya aja, kalau aku bisa jawab pasti aku jawab” aku tersenyum kearahnya “gimana keadaanmu? Apa orangtuamu sudah tau” dia menunggu jawabanku sedangkan aku yang ngak mampu menjawab apa yang dipertanyakannya aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku “jadi gimana keadaanmu” dia mencoba menanya ulang pertanyaannya yang seakan membutuhkan jawaban yang pasti “aku sehat kok” aku tersenyum kearahnya “ok sekarang kamu harus jawab pertanyaanku yang pertama tadi” dia melihat aku dengan senyuman indah yang merekah dibibirnya “yang mana?” tanyaku yang berlagak polos “hmm, tentang valentine, kamu juga pasti suka valentinekan, terus gimana neh, udah ada persiapan buat ngasih sama pacar” tanyanya yang masih dengan senyum yang menempel dibibir imutnya “boro-boro punya pacar teman cwo yang bakal ngasi coklat aja ngak ada, jangankan yang ngasih, buat tukeran aja ngak ada juga” aku memberikan senyuman padanya dan dia pun mengucek-ucek rambutku “hmm, gimana kalau kamu yang jadi temanku dihari valentine nanti” dia masih memegang kepalaku dan aku sangat menikmatinya “senang deh, benar ngak sih, tapi bukan karena kasihan denganku kan, hayo…canda deh” aku mulai berleluconan dengan dia dan memang sangat benar kami sudah mulai sangat dekat akhir-akhir ini.
Lama juga kami berbincang hingga dia menyudahi pembicaraan dan dia pun permisi buat ninggalin aku lagi sendiri “ntar aku jemput ya, kita jalan-jalan lagi” dia membelai rambutku sambil pamitan sedangkan aku hanya berdiri terpatung sambil menatap dia dan aku memberikan senyumku untuk menghantarkan dia dalam perjalanannya entah kemana pun dia hendak pergi.
Ngak terasa banget ternyata kali ini lagi-lagi Tuhan memberikan aku kesempatan buat jalan dengannya dan dia pun menjemputku.
“jalan keman nih” tanyanya sambil melihat kearah belakang dan menatap aku “hmm, kita kesuatu tempat aja yuk” aku mengajak dia sambil memberikan kode tempat kami jalan malam ini. Kami akhirnya sampai kesuatu taman hiburan “kemari…” tanyanya dengan kebingungan dan aku cuma menganggukkan kepalaku.
Malam ini lagi-lagi kami habiskan dengan senang dan kebahagiaan. Tapi aku ngak ngerti aku sangat sedih saat dia mengatakan “aku besok balik ketempat aku kuliah dikota orang, he…e” dia tersenyum kearahku dan aku fikir itu bukanlah senyum yang ikhlas “jadi, kamu ngak disini ya menghabiskan malam valentinemu” tanyaku dengan wajah yang sedikit cemberut dan aku sangat tau diri bahwa aku ngak akan boleh marah karena dia bukanlah siapa-siapaku “aku usahain malam valentine aku kemari lagi, akukan udah janjian sama kamu buat tukeran coklat” dia tersenyum kearahku dan seakan menyuruh aku agar tak bersedih, aku pun tersenyum membalasnya.
11feb2009, dear diary, aku senang banget malam ini lagi-lagi aku senang banget karena aku bisa pergi dengannya. Aku ngak menyangka dia sangat baik banget denganku ya sekalipun itu ditunjukkannya dengan rasa kasihannya padaku, aku tak berkecil hati, yang aku fikirkan adalah betapa senangnya aku hari ini, apalagi dia mengatakan padaku ingin bertukeran coklat denganku.
Aku senang banget malam ini apalagi atas pernyataan yang diberikannya untukku yaitu dia mau menjadi chocolaterku divalentine ini. Aku tersenyum menatap awan-awan kamarku.
12 februari 2009
Aku melihat waktu yang menunjukkan kira-kira jam 10, semua keluargaku udah pada melakukan kegiatan sehari-hari mereka sedangkan aku hanya dirumah sendiri. Tiba-tiba aja masuk sebuah pesan keHPku (jam 12 nanti aku kekota tempat kuliahku, aku sangat ingin kamu mau mengantar aku, itupun jika kamu ngak keberatan), aku melirik kearah jam dinding dan aku menjadi gelisah.
Waktu semakin berjalan ngak terasa sudah menunjukkan jam 11.35 dan dengan bergegas aku siap-siap dan mencoba untuk tenang tapi tiba-tiba dadaku sakit dan aku terjatuh sebuah cairan keluar dari mulutku dan itu…darah…saat aku ingin melangkahkan kakiku keluar aku pun kembali tersungkur dan aku masih sangat jelas mendengar panggilan keluar dari HPku dan aku melihat bahwa panggilan itu dari ryan, aku sengaja ngak mengangkat telfon darinya karena aku takut dia akan tau bahwa penyakitku kambuh lagi. Lalu sebuah pesan masuk keHPku (aku ngak tau, knp qm g mblz mesq tp q akn coba ykn qm g bz dtg pst krn da alsan, tp tlg angkt tlfnq) aku membaca pesan darinya dengan perasaan bersalah dan aku mencoba menahan penyakit ini tapi ngak seperti biasanya kali ini penyakit ini sangat sakit dan malah membuat aku menjadi tersungkur dan tak mampu berbuat apapun. Setelah itu dia menelfonku kembali dan aku tetap tak mengangkat telfonnya tapi aku pun tak ingin dia kecewa, aku dengan cepat mengirim pesan padanya
Setelah itu aku melihat jam dinding dan ternyata waktu menunjukkan bahwa sudah jam 12.15, aku menyesali kesalahanku dan aku seakan ngak mampu memaafkan kesalahanku, aku hanya mampu menangis.
Malam…malam…aku hari ini bersedih banget, dia udah pergi dan aku ngak tau apakah dia akan menepati janjinya keaku sekalipun dalam tidur terakhirku. Aku ngak mampu membendung tangisanku dan aku pun tak mampu rasa bersalahku, aku jadi menjauhkan HPku jauh dari hadapanku dan ngak berani mengaktifkannya karena aku takut nantinya dia akan menelfon aku dan aku takut dia kecewa padaku.
12feb2009, dear diaryku yang selalu menemaniku dalam tawa dan sedihku, hari ini aku dan dia pun berpisah, sebenarnya aku ngak tau kenapa aku sangat bersedih padahalkan kami bisa saja berjumpa kapanpun itu, tapi kali ini aku sangat takut, takut sekali. Aku seakan merasa kalau kami ngak akan berjumpa lagi. Tuhan jangan pisahkan aku dengan dia, sekalipun Engkau sangat menyayangiku dan Engkau sangat ingin aku didekatmu tapi tidak saat ini Tuhan, sekalipun begitu berikan aku waktu sampai aku bisa mendapatkan coklat pertama darinya dan aku bisa merasakan valentine pertamaku ini.
Malam kenapa hari ini kamu gelap sekali dan kenapa kau ngak memberi warnamu padaku buat menerangi malamku. Aku pun menangis. Dan kali ini aku kembali sangat takut untuk menutup mataku, aku ngak berani tidur.
13 februari 2009
Ternyata aku masih bisa menghirup udara pagi ini, aku masih mampu merasakan pagi ini, aku berlari cepat kearah kalender dan tanda merah dikalender itu tinggal satu hari lagi. Setelah itu aku tak melihat apapun, tunggu dulu aku pingsan. Aku tak tau apa yang terjadi aku hanya tau saat aku melihat sekelilingku sudah menangis disampingku dan aku tau kalau aku sudah berada dirumah sakit “ma…pa…kenapa menangis” tanyaku sambil bangkit dari tempat aku merebahkan badanku, aku melihat selang infuse sudah ada dilenganku. Aku terduduk saat aku melihat selang infuse itu dan aku melihat kaca yang ada didepanku sebuah wajah yang tampak memucat dan seperti manusia yang tak punya kehidupan lagi “ma...jangan menangis, aku jadi sedih nih” aku pun menghapus airmata mama dan mama memegang tanganku “mama ngak nangis sayang” mama membelai rambutku dan menghapus airmataku. Aku merasakan sentuhan tangan mama yang sangat lembut.
Aku menghitung detik demi detik berjalannya waktu, aku meminta mama mengambilkan kalender untuk aku lihat dan mama pun membawakan aku sebuah kalender yang kecil “ma…aku minta kalender yang besar karena yang kecil aku ngak bisa lihat, sama aku minta kertas ya mama” mataku yang sembab melihat mama yang kelihatannya kuatir akan keadaanku, mama pun memberikan aku kalender yang besar dan kertas serta pulpen seperti yang aku minta. Aku menulis dengan tangan yang gemetaran dan aku seakan ngak sanggup menulis apa yang ingin aku tulis, sesekali aku melihat mama dengan senyumanku yang mulai memudar.
Aku semakin takut menghadapi waktu yang terus berjalan, valentine yang sangat aku inginkan sekarang malah berubah menjadi sesuatu yang tak aku inginkan, aku tak mampu buat memegang kalender itu lagi karena rasa takut yang mendalam.
Dan saat ini malam bukanlah begitu lama tapi aku merasa kalau malam semakin cepat banget, tapi aku tak melihat atau malah aku tak mampu melihat lagi malam yang indah karena aku berada dalam ruangan yang cukup tertutup. Aku melihat kearah kaca yang ada didepanku. “mama, aku kedinginan…” aku menangis kearah mama sambil meminta mama ada didekatku “sayang kamu kenapa?” mama memeluk aku “mama aku kedinginan, mama.. dingin.. ” aku memeluk mama dengan sangat kencang, aku tak mau melepas mama “mama akan menemani yesha, mama akan didekat yesha kok” mama makin mendekap aku dengan eratnya.
Waktu makin cepat berjalan aku melihat kearah jam yang ada didinding ruangan tempat aku dirawat, mataku yang semakin sembab dan wajahku yang semakin memucat tak kujadikan alasan buat aku menyerah, mama yang masih mendekap aku hanya menangis dan sesekali aku menghapus airmata mama, aku masih ngak bisa tidur.
14 februari 2009 jam 00.02
Aku bisa merasakan sendiri datangnya hari valentine, ternyata aku masih mampu merasakan saat-saat penantian valentine’s day, aku melihat sekelilingku yang sudah pada tidur dan mama selalu disampingku. Aku melihat jam yang terletak didepanku, angka yang menunjukkan pukul 00.02 wib dan kalender yang ada ditanganku aku bisa lihat menandakan bahwa hari ini tanggal 14 februari aku hanya mampu tersenyum, aku menunggu janji yang diberikan oleh ryan padaku bahwa dia akan datang dan memberikan aku coklat hari ini. Aku akan tetap menunggu tapi “mama…kepalaku sakit…aku ngak mau sakit” aku memegang tangan mama jam 04.15, aku melihat mama yang terbangun dan memegang tanganku sambil membanguni papa dan adik-adikku sambil memanggil dokter dan aku sangat mendengar teriakan mama yang histeris “dokter…dokter…” papa mendekat kearahku sambil memegang tangan dan membelai rambutku dan menurutku papa ingin mengatakan bahwa aku jangan menangis dan jangan takut.
Tepat pukul 10.00, keadaanku mulai membaik dan sakit didadaku serta kepalaku sudah agak mendingan apalagi setelah dokter memberikan aku obat tidur dan aku pun tak merasakan apa-apa lagi.
Aku masih menunggu kedatangan ryan, tepat pukul 18.00 aku terbangun dan aku melihat awan sudah sangat gelap dan aku sendiri ngak tau kenapa gelap sekali “ma…yesha mau jalan-jalan keluar, yesha mau melihat apa yang dilakukan orang-orang diluar divalentine ini” aku tersenyum pada mama, awalnya mama tidak mengizinkan sesaat setelah dokter memberikan mama izin.
Aku hanya ingin jalan-jalan sendiri tapi mama, papa, dokter dan adik-adikku mengawasiku dari belakang, aku merasa senang merasakan malam valentine ini, aku melihat banyaknya orang-orang yang merayakan valentine dengan tukaran coklat “beli coklat buat pacar anda” seseorang yang menjual coklat menawarkan sebuah coklat padaku dan aku membeli sebuah coklat yang berbentuk hati dan aku hanya memegang coklat itu dipangkuanku. “selamat valentine ya sayang” mama memberikan aku coklat divalentine ini, papa pun menyusul lalu adik-adikku dan setelah itu dokter yang merawat aku pun memberikan aku coklat. Aku pun memberikan mereka senyuman.
Tepat pukul 20.00 suara kembang api menyambut malam valentine ini terdengar olehku dan mataku melihat kearah suara kembang api itu dan aku melihat sangat indah kembang api yang betebaran dilangit dan aku pun tersenyum. Dari jauh aku melihat sesosok badan yang sangat aku kenali “ryan…” aku mencoba bangkit dari kursi roda yang aku kenakan dan berlari kearahnya dan dengan cepat aku udah berada dipelukannya “kenapa kamu berlari, aku kan bisa berlari kearahmu” ryan memeluk aku, lalu aku tersadar aku bukanlah pacarnya ryan “aku mintamaaf sudah memelukmu” aku menjauh dari ryan tapi setelah itu aku hampir terjatuh tapi untungnya ada ryan yang memeluk aku. “kenapa kamu ngak ngabari aku kalau kamu masuk rumah sakit, aku tau saat aku tadi mampir dirumahmu dan tetanggamu yang mengatakan” ryan membawa aku duduk dikursi rodaku kembali. “aku takut mengganggu kamu, aku
14feb2009, dear diaryku yang manis, pertama aku mau ucapin happy valentine dan aku harap valentine ini bagimu sangat indah karena buat aku valentine ini sangat…indah, hari ini aku dapat banyak coklat dan lebih special aku dapat coklat dari seorang cwo dan aku juga mendapat banyak kejutan dari dia, dia memberikan aku boneka yang besar…banget. Tapi ada yang lebih special, dia memberikan aku hatinya, dia menyatakan perasaannya padaku dan aku senang banget, aku ngak mau menyia-nyiakan ini, karena buat aku ini adalah hal yang special banget karena aku juga sayang sama dia, aku sangat mencintainya. Namanya ryan timoty, dia cwo yang baik”
Aku menutup diaryku setelah menulis sebuah curhatanku tentang valentine ini dan aku memberikan diary biru itu pada ryan “aku mau kau jaga diary ini buat aku” baru kali ini aku melihat seorang cwo kecuali keluargaku yang menangis buatku “aku akan jaga buatmu, aku sayang kamu” ryan memelukku dan aku hanya mampu menghapus air matanya “aku makan ya coklat darimu” aku membuka kotak coklat yang diberikan oleh ryan untukku dan sambil memakan coklat aku memeluk boneka darinya “aku juga mau beri kau sesuatu” aku memberikan kotak coklat pada ryan yang aku sangat tau sebenarnya ryan ngak terlalu suka coklat tapi saat itu aku dan ryan tertawa sambil menikmati coklat dan sesekali aku melihat kearah belakang, aku melihat mama, papa dan adik-adikku serta dokter dan perawat yang mengawasiku, aku pun menyuruh ryan mengantarku pada mereka. Saat aku berada didekat mereka aku memberikan mereka coklat dan mereka pun memakan coklat itu sambil menangis dan sesekali memberiku senyuman “aku sayang kalian semua” aku tersenyum pada mereka sambil menghapus air mata mama yang terjatuh dan aku memberikan senyum terindahku pada mereka. Lalu aku meminta ryan membawaku kesebuah tempat yang sangat indah dimana masih banyak kembang api yang dinyalakan untuk menutup valentine ini.
Kembang api yang pertama aku meminta permohonan pada TUHAN untuk menjaga mama, papa, dan adik-adikku. Kembang api yang kedua aku meminta pada TUHAN untuk menjaga dokter dan perawat-perawat dirumah sakit tempat aku dirawat ini dan teman-temanku juga. Dan permintaan ketigaku aku meminta pada TUHAN agar ryan tetap mencintaiku sekalipun kami ngak bisa bersama, sekalipun akan ada kelak yang mengisi tempatku dihatinya. Saat permintaan ketigaku itu aku merasakan sakit yang sangat mendalam didadaku dan aku sendiri ngak sanggup menahannya “ryan…sakit banget, sakit…” aku menangis dan saat itu pula ryan memeluk aku “yesha…aku akan membawamu, aku akan membawamu supaya kamu diobati” ryan mendekap aku sangat erat dan dia mencoba menggendong aku dengan sekuat tenaganya “ryan… aku sayang sama ryan, aku sangat mencintai ryan, aku minta maaf udah membuat ryan cemas” aku masih berada dipelukan ryan “yesha akan sembuh, yesha akan sembuh” ryan yang mengatakan itu melihat aku dengan tangisannya, aku hanya mampu tersenyum dan aku makin mendekatkan rebahan kepalaku kepelukan ryan dan aku hanya melihat wajah ryan yang saat itu risau melihat aku “dokter…dokter…” aku masih mendengar teriakan ryan dan aku melihat keatas dan saat itu banyak bintang yang seakan menangis bersama bulan tapi aku memberikan senyumanku, sekalipun itu senyuman terakhir dariku “aku mintamaaf ryan, aku sayang sama ryan” sesaat itu pula aku masih merasakan hembusan nafas terakhirku dan tak merasakan apapun.
“Itulah yesha yang masih bertahan dalam pelukanku untuk yang terakhir kalinya dan aku sangat yakin disana dia tidak akan kesakitan lagi dan sisa coklat yang dibawanya dariku pasti dia habiskan disurga itu bersama teman-temannya” aku pun menangis saat aku dan keluarga yesha berada dipekuburan yesha dan disitu mama yesha dan adik perempuan yesha sangat terpukul sampai mereka sering pingsan dan papanya yesha memcoba bertahan sekalipun aku sangat tau bahwa sebenarnya papa yesha sangat terpukul akan kehilangan yesha tapi saat ini aku melihat papa yesha yang mencoba tegar dan sangat tegar. Aku sendiri saja ngak sangup menerima semuanya tapi aku pun hanya mampu menahannya dan aku melihat papa yesha seperti itu seperti yang pernah yesha katakan bahwa papanya adalah lelaki yang sangat dikaguminya dan mamanya adalah wanita yang sangat diidamkannya, yesha yang sangat polos kini udah ngak ada dan aku yang masih memegang buku diary biru yang diberikannya hanya mampu terisak, dia yang meninggal dipelukanku kini dia sudah tidak ada lagi didekatku dan aku akan selalu mencintai dia sekalipun diakhir hidupnya dia tidak mampu melakukan apapun tapi dia telah berani menjalani semua dengan ketegarannya dan dia sangat senang menjalaninya terlebih ada mama, papa, adik, teman-temannya dan aku sangat tau dia juga pasti senang berada didekatku yang mencintainya “selamat jalan melaikat kecil…selamat jalan cinta detikku…selamat jalan kekasih akhir hidup, aku akan mencintaimu walau kelak ada yang lain yang diberikan TUHAN padaku tapi buatku kau takkan pernah tergantikan” aku pun menangis sambil menyiramkan bunga dipekuburannya dan saat itu aku merasakan yesha ada didekatku dan mengatakan “aku juga sayang kamu ryan” aku mencari arah suara itu tapi tak kutemukan dan aku hanya menemukan itu dari hatiku saja.
Sekalipun sebuah ending tidak berakhir dengan bahagia
Tapi yakinlah kehidupan dijalani bukan untuk disudahi
Sekalipun orang yang kita cintai tidak akan selalu didekat kita
Salam kelembutan buat yesha yang mungkin saat ini sudah berada disurga
Dari ryan timoty
Cerita dan nama hanya karangan dan bukan sebuah cerita nyata